Sekapur sirih pada jambangan laman....

Besarlah langsat di tepi busut,
Daunnya lebat menutup bumi,
Hamba berhajat ingin menjemput,
Menyampaikan niat didalam hati......

"Hendak merangkai hasrat dalam sulaman rindu, menjadikannya helaian-helaian puisi, dalam bait menatah hati, ketika resam menuju tanjak, pada semenanjung peradaban ku yang anjung......"

Minggu, 18 Januari 2015

Kau tau???
aku butuh amarah,
untuk meluapkan kecewa yang hampa ini,
sekian menit saja,
agar waktu tak menjadikan aku kisruh,
memaktub sepenggal asa,
yang menjalar seantero tubuh kita,
lalu aku akan diam,
sediamnya!!!
Dan kau pergi saja......

Kamis, 18 September 2014

Mak!!
Aku sekarat dalam penat,
Ingin ku tatah lagi rahim mu,
Menuju ke dalam damai engkau....

Selasa, 16 September 2014

Aku terbuai dalam lafas kidungmu, yang mendekap malam ku menjadi bait sepi, lalu kau sagang senandung  pada hiba senja.
Akankah ku arung rindu, pada temaram bulan, lalu merangkainya menjadi mimpi??
Ah!!
ternyata aku kandas, terbelenggu pada cinta mu yang tak tuntas......
Aku terbata mengeja rindu, yang kau tuang se-bejananya, setelah mimpi enggan menyinggahi lubuk-lubuk hati yang bertikai.

Lalu tersesat, hening dalam perdu menirai, yang menjelagakan aku bersama titah seraut mu.

Pergilah!!

Biarkan waktu bersajak, menua dalam tangkup hatiku....

(Masih Tentang) Entah

Malam merisalahkan aku pada degup mu,
mengambang ditapal batas,
yang aku adalah biduk kau sandar,
setelah melayari lancang pesiar,

Maka akupun melapuk tak terjamahkan,
serta membiarkan hanyut meng-kiambang
dengan arah yang entah......

Senin, 10 Desember 2012

Aku telah mati dalam kota yang terpilah diantara pulau pulau, pun setelah kenyataan ini, maka biarkan keterasingan ku menjadi mimpi, karena persetubuhan itu telah usai, dan akupun memapah rindu yang memilin diantara jemari waktu.....

Minggu, 04 November 2012

Aku?????
sebagai tubuh tertulis didalamnya!!!
lewat sepucuk risalah nyeri,
yang terus mengutuk pada pembendaharaan kita,
lantas ingin melipatnya,
agar matahari terbiasa mengalung dileher ku,
menyuguhkan mu suatu ketika,
dipulau yang ramah mendekap rusuk rusuk kesetiaan,

peganglah aku.....
karena akan kau lepas dengan gerimis diujung dermaga,
usai ombak tabah menangisi kepergian diantara kita,
yang menokhtakan harapan,
seketika membuka kembali kenyataan ini,
yang telah lama ku susun dari keterasingannyaa.....